Cerpen 0.2 Pengorbanan cinta Sekitar jam setengah satu pagi, aku tidak bisa tidur. Aku masih heran dengan ucapan Rangga tadi. Tiba-tiba Rangga datang ke rumahku dan menyatakan perasaannya. Rangga, cowok populer satu itu kenapa bisa menyatakan perasaannya padaku? Pada cewek yang terisolasi dari sekolahannya ini? pada cewek yang tidak pernah dianggap ada di sekolahannya ini?. Aku terus memikirkan itu. Besoknya tiba-tiba Rangga menhapiriku di kelas. Dia memang mengobrol dengan teman-temannya tapi, matanya itu... selalu tertuju padaku. Dan itu membuat aku.. gugup. Khanza, sahabatku pun, menenangkanku. Kemudian Rangga menghampiriku. “Jawabannya udah, Res?” tanya Rangga. Aku diam menatapnya. Kemudian aku menundukkan kepalaku, takut. “Mau ya, Res? Fares?” tanya Rangga lagi. Khanza menyenggol-nyenggolku. Aku bingung kemudian aku berdiri dan bilang pada Rangga, “tunggu nanti di taman sekolah. Udah sono lo pergi!”. Kemudian Rangga pergi sambil menyunggingkan senyuman dibibirnya. Pulang sekolah aku dan Khanza pergi ke taman menemui Rangga. Kulihat Rangga sudah duduk menungguku. Aku semakin gugup. Kemudian aku menghampiri Rangga. “Kenapa lo nembak gue?” tanyaku gugup, “Karna gue suka sama lo”, aku menatap kaget Rangga. Kaget dengan jawaban Rangga itu. Kulihat Rangga hanya tersenyum padaku. “Gue kan nggak populer, Ga. Masih banyak cewek-cewek cantik yang suka sama lo” ucapku lagi. Khanza mengiyakan. “Tapi gue sukanya sama lo dan gue mau lo jadi pacar gue!” sahut Rangga tegas. Entah mengapa aku begitu bodoh kala itu. Tiba-tiba saja aku bilang iya pada Rangga. Apa mungkin karena aku ketakutan sampai bertindak bodoh seperti ini? padahal aku tau, menjadi pacar Rangga, sama saja menjadi putri bagi pangeran. Pasti banyak cewek-cewek yang akan mencabik-cabikku. Benar saja dugaanku, ternyata berita aku pacaran dengan rangga sudah tersebar seantero sekolahan. Cewek-cewek memandang sinis kearahku. Aku pun tidak berani keluar kelas karena itu. Padahal, di dalam kelas pun aku sudah muak mendengar sindiran teman-temanku. Ingin rasanya aku keluar dari sekolah ini. Tiba-tiba geng Black Devil, geng yang anggotanya cewek-cewek cantik nan seksi itu menghampiriku. Bunga, ketua geng itu menggebuk mejaku. “Dasar cewek nggak tau diri! Udah jelek belagu lagi! Lo kan tau siapa yang berhak dapetin Rangga! Lo pasti mandi kembang empatbelas rupa buat nyihir Rangga kan! Lo pasti main dukun! Cuihh!” bentaknya sambil meludah. Aku tidak terima dengan bentakan itu. Kemudian tanpa kusadari, aku menggebuk meja juga. Daripada malu karena sudah menggebuk meja, akhirnya aku membentak Bunga ganti. “Gue nggak pernah ke dukun ya! Rangga yang nyatain perasaannya ke gue duluan! Gue juga nggak percaya dengan apa yang dilakuin tuh orang! Dan gue sebenernya nggak tertarik dengan ucapan Rangga karena gue tau cuma lo yang bisa dapetin Rangga! Tapi gue pikir, its time for chage! So, gue terima dia” bentakku ganti dan pergi meninggalkan kelas. Aku yakin pasti Khanza kaget dengan ucapanku. Saat akan keluar kelas, aku melihat Rangga menatapku dalam. Kubalas tatapan Rangga dengan tatapan sebal dan benci. Dasar cowok! Kenapa dia nggak ngebantu gue ngadepin Bunga?! Ucapku dalam hati. Keluar toilet, tiba-tiba Aldo, salah satu teman Rangga mendatangiku. “Gue surprise banget sama ucapan lo tadi waktu ngebentak bunga. Semoga nantinya lo kuat saat tau yang sebenernya ya” ucap Aldo tersenyum kemudian pergi meninggalkanku. Aku diam dengan tanda tanya besar dikepala. Apa maksud perkataan Aldo itu? Setelah tiga bulan berpacaran dengan Rangga, aku semakin terbiasa dengan keadaan. Cewek-cewek juga terlihat sudah cuek dengan hubunganku dengan Rangga. Walaupun masih ada yang suka menyindirku, tapi Rangga bilang cuek saja dengan hal itu. Black Devil juga sudah tidak pernah menyindirku lagi. Yah, walaupun mereka terutama Bunga masih suka deketin Rangga, tapi biarlah. Rangga memang cowok populer yang pantas dideketin sama cewek populer juga. Malam itu, Rangga datang ke rumahku. Aku yang sedang belajar, kaget saat Mama bilang ada Rangga. Dengan hanya mengenakan celana pendek dan baju bergambar doraemon, buru-buru aku turun kebawah, ke ruang tamu. Kemudianku sapa Rangga yang sedang duduk. Rangga menatapku sejenak, kemudian disapanya aku balik. “Pergi yuk! Gue lagi suntuk nih” ucap Rangga. Aku menggeleng dengan alasan ingin belajar. “Udahlah, belajar kan bisa entar-entar. Gue tunggu empat puluh lima menit dari sekarang! Cepet!” ucap Rangga kemudian dan menyuruhku ganti baju. Aku pun akhirnya menuruti. Sesuai janji, empat puluh lima menit kemudian aku turun dari kamar dengan menggunakan dress berwarna krem ungu seatas dengkul tapi tetap dengan sepatu kets unguku. Sebenarnya bajuku ini ku sesuaikan dengan baju dalaman Rangga yang berwarna krem dan blazer coklatnya Rangga. Kemudian kuhampiri Rangga yang menatap padaku. Aku tidak mengerti kenapa dia menatapku seperti itu. Ku goyang-goyangkan tanganku kekanan dan kekiri tepat didepan wajah Rangga. Kemudian Rangga sadar dan bilang, “lo cantik, Fares. Kenapa gue nggak dari dulu sadar ya? Hehe. Ayo!”. Kemudian aku dan Rangga pergi dinner malam itu. Setelah dinner Rangga mengajakku ke tempat seperti sebuah taman. Tapi kulihat jarang ada orang di taman itu. Kemudian Ranga menyuruhku duduk dibangku dekat lampu taman. Remang-remang aku melihat wajah Rangga yang terlihat gugup. Kenapa dia? Tanyaku dalam hati. Kemudian saat kami berdua sedang mengobrol, tiba-tiba Rangga menggenggam tanganku. Aku sudah pasti gugup. Jantungku berdetak cepat dari biasanya. Kami berdua saling pandang. Kemudian Rangga semakin mendekat denganku. Dipeluknya tubuhku ini. aku juga bisa merasakan detak jantung Rangga. Jantung itu sama sepertiku, berdetak dengan cepat. Setelah memelukku, kemudian Rangga mencium keningku. Seumur-umur aku belum pernah dilakukan seperti ini. rangga adalah cowok pertamaku. Cowok pertama yang menciumku. Kemudian didekatkannya wajah Rangga ke telingaku. Lalu dia berkata, “gue suka sama lo, Res. Lebih dari suka bahkan”, Rangga kemudian tersenyum dan memelukku lagi. Aku kaget tak percaya. Ucapan Rangga tadi malem benar-benar buat aku jadi senyum-senyum sendiri. Aku seperti orang gila! Apa mungkin aku mulai jatuh cinta? Sama Rangga? Cowok populer itu? Apa mungkin ucapannya tadi malam sungguhan? Tanyaku dalam hati. Khanza tiba-tiba bertanya, “lo kenapa sih, Res? Dari tadi gue perhatiin... senyum-senyum sendiri?”. “Gue lagi jatuh cinta, Za” jawabku sambil senyum-senyum. “Sama Rangga? Nggak mungkin! Dia Cuma mainin elo doang tau! Sadarrr!!!!!” teriak Khanza kemudian. Teman-teman yang lainnya lantas menatap kesal kearah aku dan Khanza. Kutarik Khanza keluar kelas. Kami pun ke kantin. Disana aku mulai menjelaskan semuanya. “Pertamanya gue juga mikir Rangga cuma main-main, Za. Tapi liat, udah tiga bulan lebih gue sama dia sekarang. Gue kira pasti cuma dua hari gitu. Kejadian tadi malem, bener-bener buat gue yakin kalo Rangga beneran sama gue, Za. Dia pasti serius sama gue” ucapku panjang-lebar. Khanza kemudian menarik nafas. “Terserah lo deh, Res. Mungkin menurut lo ini yang terbaik. Yah, semoga aja pemikiran lo itu bener. Rangga serius dengan lo! Eh tapi, kalo kenyataannya sebaliknya, lo nggak boleh down dan harus terima semuanya, oke?” sahut Khanza kemudian. Aku mengangguk menjawab sahutan Khanza. Kemudian aku memeluk senang sahabatku itu. Seminggu kemudian, aku dan Rangga semakin dekat dan semakin sering keluar. Sekedar ke toko buku atau jalan-jalan. Hingga pada pagi itu, sekitar jam 10 pagi, aku kebelet buang air kecil. Aku pun berlari secepat mungkin agar cepat sampai ke toilet. Terdengar suara Rangga di salah satu kelas. Aku pun berhenti berari dan melihat Rangga dan teman-temannya. “Ga, lo udah berhasil naklukin Fares selama tiga bulan! Lo juga udah dapet duit imbalan kan? Enak jadi lo, Ga! Tapi kenapa lo mau terus-terus deket sama dia? Sama cewek jelek kayak dia! Ini Cuma taruhan, Ga! Dan lo udah menangin taruhan itu. Masih banyak kan cewek cantik lainnya dari pada dia? Bunga contohnya, yang udah bener-bener ngejar lo gitu. Kenapa pake acara seminggu lo deket sama dia, Ga? Sedeng lo!” ucap salah satu temannya Rangga saat itu. Aku lihat ada Aldo juga disana. Aku benar-benar terkejut dengan ucapan itu. Taruhan?! Aku hanya dijadikan taruhan oleh Rangga dan teman-temannya?! Dasar! Semuanya biadap! Teriakku dalam hati. Kemudian aku berlari balik ke dalam kelas dan mengambil tasku. Tidak peduli ada guru saat itu juga. Air mata sudah mengalir dipipiku. Hatiku benar-benar sakit. Omongan Khanza benar, Rangga tidak akan pernah suka padaku. Kenapa aku bodoh begini?! Cinta benar-benar membuat orang gila! Ucapku dalam hati. Dua hari ini aku tidak berangkat kesekolah. Aku juga sudah menceritakan semuanya pada Mama, jadi Mama pun memaklumi. Kemarin Khanza juga sudah datang ke rumah. Menanyakan kenapa aku nekad mengambil tas lalu pulang padahal masih ada guru. Aku juga sudah menceritakan semuanya pada Khanza. Khanza hanya menyemangatiku. Aku tidak bisa memegang janjiku pada Khanza. Aku tidak bisa kalau tidak down begini. Hatiku benar-benar sakit mendengar dengan kuping sendiri kalau aku hanya dijadikan permainan orang-orang saja. Aku sedih dan terpuruk. Malamnya tiba-tiba saja Mama bilang ada yang mencariku. Tadinya aku tidak mau turun dan menumuin orang itu, tapi karna Mama memaksa, akhirnya aku turun dengan mata bengkak karena menangis. Lelaki itu membelakangiku. Saat kusapa, ternyata... Aldo? “Ngapain kesini?!” tanyaku ketus. “Gue kesini nggak disuruh Rangga kok. Gue kesini ya mau jelasin semuanya ke elo, Res. Gue tau kalo lo udah tau semuanya” jawab Aldo tenang. “Tau kalo gue cuma jadi bahan taruhan?” tanya gue kemudian. Aldo hanya mengangguk malu. Ingin sekali aku mencekik cowok di depanku ini. karena bagaimanapun juga, dia ikut andil dalam taruhan ini. karena kulihat saat itu, dia ada disana. “Kita emang jadiin lo bahan taruhan, Res. Kita semua minta maap karena itu. Kita jadiin lo bahan taruhan ya.. karna lo itu lugu. Jadi pasti gampang mengaruhinya, Res. Tiga bulan, Res. Cuma tiga bulan kita nyuruh Rangga deketin elo tapi.. lo tau sendiri kan? Tiga bulan lebih Rangga malah deketin lo terus. Ya, walau belum dapet penjelasan dari Rangga.. tapi gue yakin dia mulai suka sama lo, Res. Dia suka serius sama lo!” jelas Aldo menatapku. Aku terdiam. Memikirkan ucapan Aldo itu. “Nggak! Gue udah nggak yakin lagi! Gue nggak percaya ucapan lo, Do! Lo sama aja kayak cowok lainnya dan Rangga! Gue nggak bisa percaya elo!” teriakku kemudian berlari ke kamar dan meninggalkan Aldo. Besoknya pun aku kembali ke sekolah. Sebelum sampai kelas, tiba-tiba geng Black Devil menghampiriku. Mereka semua kemudian tertawa. “nggak mungkin Rangga beneran suka sama lo, kampung!” ucap Bunga kemudian pergi diikuti teman-temannya. Aku langsung berlari ke kelas. Aku terus menahan air mata yang mulai menetes, tapi usahaku gagal. Air mata itu menetes juga. Aku benar-benar bodoh! Pulang sekolah, entah kenapa langkah kakiku malah pergi ke taman dulu Rangga mengajakku. Aku hanya ingin sendiri. Dan kurasa, taman ini cocok untuk hatiku. Tempat yang tenang dan damai. Aku juga duduk di bangku yang sama seperti dulu saat aku berdua dengan Rangga. Tiba-tiba teringat hari itu lagi. Dimana saat Rangga mengucapkan kata itu. Sekarang semua sirna. Ternyata ucapan itu hanya pura-pura. Rangga, cowok itu... harusnya aku sadar... Sampai sore aku hanya duduk dibangku dekat lampu taman. Memandang kosong ke depan. “Bukan maksud gue begitu, Res”, tiba-tiba ucapan itu membuyarkan lamunanku. Aku pun menengok kesamping. Kulihat Rangga duduk disampingku sambil memandang kearah depan juga. Kemudian aku ikut memandang kearah depan juga. Air mataku mulai menetes. Ingat perkataan temannya Rangga waktu itu. Saat aku hanya dijadikan bahan taruhan. “Kenapa lo jahat banget sih, Ga! Gue tau, gue emang cewek lugu yang nggak ngerti apa-apa malah lo itu pacar pertama gue! Tapi.. seenggaknya lo mikir perasaan gue dong! Kata-kata sayang itu.. kata-kata itu.. ternyata hanyalah kiasan! Ternyata lo nggak bener suka apalagi sayang sama gue. Tapi thanks karna dengan itu.. gue belajar buat nggak cepet kemakan dengan ucapan bullshit cowok!” ucapku. Rangga kemudian menggenggam tanganku. Dihadapkannya aku pada dirinya. “Gue salah, Res. Malah karna taruhan itu.. emm.. gue.. gue.. beneran suka.. sama.. sama.. lo. Ini sungguhan, Res! Ini perasaan gue sama lo! Karena taruhan itu gue su.. gue suka sama lo! Maap karena kebodohan gue udah bohongin lo, Res. Gue bener-bener minta maap tentang taruhan itu, Res. Sekarang.. gue bener-bener jatuh cinta sama lo” jelas Rangga. Aku hanya melihat wajah cowok itu. Kali ini aku yakin, Rangga benar-benar mengucapkan dari hati. Aku melihat ketulusan di wajah tampan Rangga itu. “Fares, gue sayang sama lo” ucap Rangg lagi kemudian memelukku. Memeluk eratku seakan tidak mau melepaskannya. Entah kenapa, aku merasa nyaman dengan pelukan itu. Tiba-tiba aku membalas pelukan itu. Aku benar-benar yakin.. Rangga menyayangiku sebagai pacarnya. Aku juga sayang sama kamu, Ga. Ucapku dalam hati kemudian tersenyum.
Minggu, 20 Mei 2012
cerpen 0.1 my young step father
cerpen 0.1 my young step father My young step father Donna muncul ke permukaan kolam renang dengan anggun. Tungkai kakinya yang panjang dan langsing diayunkannya untuk menaiki tangga kolam. Ia mengambil handuk kimononya di kursi dan memakainya, lalu menyisir rambutnya yang lurus panjang dengan jemarinya yang lentik. Saat akan mengambil crush lemon lime, Donna baru menyadari keberadaan seseorang. “Rafdy.” Donna melangkah mundur, ia menyipitkan matanya. Ia memandangi pria di hadapannya dengan dingin. Diangkatnya wajahnya. “Ibu tidak ada, percuma kau kemari.” Rafdy tetap berdiri di tempatnya. Jasnya berwarna hitam serasi dengan celana panjang hitamnya. Ia tidak memedulikan sikap dingin Donna. “Apakah kautahu Ibumu pergi ke mana, calon anakku?” Donna menggertakkan giginya. Beraninya ia menyebutku calon anaknya! Usiamu hanya beberapa tahun di atasku dan lebih muda dari kakak pertamaku, Dina! Kau lebih pantas menjadi anak Ibuku! maki Donna dalam hati. “Ibu pergi keluar kota.” Donna tersenyum sinis. Ia mengambil crush dan meminumnya. “Kasihan sekali kau. Kau ‘kan kekasih Ibuku, tapi Ibu tidak memberitahumu ia pergi ke mana.” Rafdy mengangkat alisnya tak acuh. “Apakah ia memberitahukan ke kota mana?” “Kau memuakkan! Apakah kau tidak bisa mencari wanita lain? Apakah menurutmu Ibuku yang sudah berusia 47 tahun itu begitu menarik di matamu?” Donna membanting crush ke lantai semen. Napasnya tersengal dan wajahnya memerah karena marah. Tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya. Rafdy berjalan dengan tenang ke arah Donna. Dielusnya pipi kanan Donna dengan punggung tangannya. “Lalu bagaimana? Apakah aku harus mencintaimu, begitu?” Dengan marah Donna mencengkeram tangan Rafdy dengan kuat. “Jaga mulutmu, brengsek!” “Kau yang harus menutup mulutmu.” Dengan mudah Rafdy melepaskan cengkeraman Donna. Diremasnya bahu Donna dengan kasar. Mata Rafdy berkilat marah. “Kau lebih muda dariku. Kau tahu, kau tidak lebih cantik dari Ibumu.” Lalu ia melepaskan Donna dan pergi ke dalam rumah dengan langkah panjang, tegap, dan angkuh. “Dan ingat, jangan membuang-buang minuman.” ujarnya tanpa menoleh. Donna mengentakkan kakinya dengan kesal, melepas handuk kimono sembarangan, dan terjun kembali ke air. Aku harus mendinginkan kepalaku, pikir Donna. Di rumah Dina…. “Oh, jadi Ibu masih menemuinya?” tanya Dina. Donna mengerang kesal. “Tentu saja! Kak Dina, aku tidak tahu harus bagaimana lagi! Aku…aku kasihan pada Dhena dan Gema, tapi aku juga sayang Ibu!” Dina merangkul adiknya dan mengelus punggungnya dengan sayang. “Tapi kurasa Dhena dan Gema menyayangi Rafdy, dan Rafdy pun sayang pada mereka.” Donna menatap kakaknya sambil mengerutkan kening. “Kakak pun tahu ia hanya ingin uang Ibu! Ia hanya memanfaatkan Ibu!” Donna menahan air matanya dengan menggigit bibir bawahnya. “Kenapa harus Ibu?” Dina mengangkat bahu. “Aku tidak tahu. Aku akan bicara dengan Andi, biar ia menasehati Ibu.” “Suamimu? Kakak, hal ini….” “Donna, Andi tahu apa yang harus dilakukan.” “Baiklah, aku serahkan padamu, Kak.” Donna agak tenang melihat senyum Dina. Lihat saja, Rafdy! Takkan kubiarkan kau memanfaatkan Ibuku!” Dua hari kemudian…. “Ibu, jadi kita akan menonton bioskop bersama?” Dhena bersorak riang. Ia merangkul Ibunya. Dhena adalah adik Donna yang berusia 14 tahun. Gema menatap ragu. “Kenapa Paman Rafdy tidak ikut dengan kita, Bu?” Donna melirik Gema kesal. Ia menggigit bagian dalam bibirnya. “Paman Rafdy? Untuk apa ia ikut kalian, Gema?” Retna mengelus rambut Gema dengan sayang. Ia tersenyum pada anaknya yang berusia 12 tahun itu. “Paman Rafdy sedang sibuk. Apa kau rindu padanya?” “Ibu!” Retna memandang Donna. “Sayang, maafkan Ibu.” Retna melirik Gema dan Dhena. “Ayo, Ibu rasa kita harus bergegas, filmnya keburu dimulai.” Retna menggandeng Gema dan Dhena menuju pintu. “Kau yakin kau lebih suka bersama Andre, Sayang? Hm, Ibu yakin itu adalah pertanyaan retoris.” Retna mengedipkan matanya, lalu berlari dengan kedua adik Donna. Mereka naik Starlet Metalik, mobil yang dimiliki Retna setelah Retna lulus SMU, saat ia menikah dengan Ayah Donna. Donna menghempaskan diri ke sofa dan menyetel TV. Beberapa menit kemudian Andre telah duduk di sampingnya. Mereka menikmati DVD yang dibawa Andre. Anime horor Another. Saat Donna sedang tegang menonton Another, tiba-tiba Andre mendorong dan memeluknya ke sudut sofa. Andre bermaksud untuk menciumnya. “Andre, kurasa….” “Ehem. Malam minggu memang mendukung untuk suasana yang romantis.” Donna terkejut. Ia langsung bangkit setelah Andre melompat berdiri. Donna merasa sangat malu. Wajahnya terasa panas dan pastinya memerah sampai telinga. “Apa yang kaulakukan di sini? Bagaimana kau bisa seenaknya masuk?” Donna berdiri, menatap angkuh pada Rafdy. Rafdy mengangkat alisnya ─ Donna tahu, itu kebiasaannya ─ dan balas menatap Donna. “Apa kau tidak tahu? Pintu belakang tidak dikunci. Kurasa Bi Tina lupa menguncinya.” Ia menatap Andre, membuat cowok itu rikuh. “Kurasa sebaiknya kau keluar, Rafdy!” “Donna….” Andre berusaha menenangkan Donna, namun Donna tetap menatap angkuh pada Rafdy. Rafdy melipat lengannya. Malam ini ia mengenakan kemeja pantai dan celana panjang hitam. Rambutnya dipangkas ala Tin-tin. Mau tak mau Donna menyukai penampilan Rafdy. “Andre, sekarang sudah jam setengah sebelas malam. Kurasa remaja seperti kalian tidak baik kencan terlalu malam.” Andre bermaksud menyanggah ucapan Rafdy, namun keduluan Donna, “oh, begitu? Kurasa perbedaan usia kita hanya lima tahun. Kami mau kencan sampai jam berapa pun, itu bukan urusanmu!” “Jelas itu urusanku. Apa kau lupa bahwa aku ini calon Ayah tirimu?” Sebelum Donna sempat membalas kata-kata Rafdy, Andre memegang bahu Donna. “Kurasa benar apa katanya, aku harus pulang.” Andre mengecup pipi Donna ringan lalu tersenyum. “Sampai besok, Donna sayang.” Andre terseyum hormat pada Rafdy, lalu pergi. Donna memandangi kepergian Panther hitam Andre melalui kaca jendela ruang tamu. “Kau takkan pernah menjadi Ayah tiriku. Takkan pernah!” Donna mencengkeram tirai bercorak ikan tropis dengan latar biru laut. Rafdy memutar tubuh Donna sehingga mereka berhadap-hadapan. “Aku melakukan hal itu demi kebaikanmu. Tadi kalian bisa saja lepas kendali.” Suaranya tenang. Matanya yang hitam menatap langsung. Donna membelalakkan matanya. Suaranya bergetar marah saat berkata, “aku bisa menjaga diriku sendiri! Dan kau, Rafdy, Ibu tidak mau melihatmu lagi! Bukankah ia telah memutuskan hubungan denganmu?” Rafdy mengangkat bahu. Ia berjalan ke ruang keluarga dan menonton anime horor Another yang masih diputar . “Retna takkan memutuskan hubungan denganku karena ia sangat mencintaiku. Begitu pun aku.” Cinta? Kau tidak mencintai Ibuku, melainkan harta Ibuku! Dasar brengsek! maki Donna dalam hati. “Apa? Ibuku tidak memutuskan hubungan denganmu ─ oh!” Donna mengerang kesal dan putus asa. Jadi nasihat Kak Andi sama sekali tidak dipedulikan Ibu! “Duduklah, kau tidak mau melanjutkan menonton anime ini?” Rafdy sama sekali tidak peduli akan kepanikan Donna. “Tidak, terima kasih. Aku mengantuk.” Siapa sudi nonton berdua denganmu! “Putih….” “Apa?” “Kulitmu putih walau kau sering berada di bawah terik matahari.” Mata Donna yang cokelat muda menerawang. “ Turunan Ayah….” Rafdy bersandar di sofa empuk berwarna cokelat tua. “Jelas kau tidak menyukai Ayahmu, lalu kenapa kau tidak mau aku menjadi Ayahmu?” “Tidak!” Donna menggeleng. Ia meremas tangan kirinya sendiri sambil menunduk. “Aku memang tidak menyukai Ayahku, sebab ia pergi beberapa saat sebelum Gema lahir. Tapi bagaimanapun, aku tidak ingin kau menjadi Ayah tiriku! Karena kau hanya menginginkan harta Ibuku!” Tiba-tiba Rafdy bangkit dan mendekati Donna. Ia mencengkeram bahu Donna dengan kuat. Matanya menyipit, menyelidik. “Jangan kauucapkan hal itu lagi, kau tahu? Aku bukan orang tolol! Aku sungguh-sungguh mencintainya, dan aku lebih baik dari Ayahmu yang tolol itu!” “Jangan sebut Ayahku tolol!” “Lalu apa? Bodoh?” “Kau…!” Bunyi bel menghentikan pertengkaran mereka. Donna melepaskan diri. Ia memunggungi Rafdy. “Silahkan menemui Ibuku. Tapi ingat, bukan berarti aku menyetujui kalian. Rafdy, jangan hina Ayahku lagi….” Lalu Donna pergi ke kamarnya di lantai atas, sebelum Rafdy membukakan pintu untuk Retna dan kedua anaknya. Donna mengambil foto berbingkai cokelat muda di laci terbawah meja belajarnya. Ia memandangi foto itu: Ibunya yang sedang mengandung, Dina, Donna, dan Dhena yang digendong oleh seorang pria tampan. Ayah jahat! Kenapa meninggalkan kami semua? Hanya karena wanita iblis itu! Air mata Donna menetes. Ia terus merutuki Ayahnya ─ Hery ─ sambil menangis, hingga terlelap di meja belajarnya. “Kau terlihat ling-ling, Donna. Ada apa?” Andre menyentuh pipi Donna dengan jemarinya. Ia tersenyum sayang. “Kau bisa menceritakan masalahmu. Apakah tentang Rafdy lagi?” Donna yang sedang bersandar di bahu Andre, mengangguk. Andre merangkul dan menepuk-tepuk bahunya. “Ceritakanlah bila itu membuatmu sedikit lega.” Donna memandang ke sekitar taman kampusnya yang luas, yang dipenuhi mahasiswa dan mahasiwi yang berlalu lalang, bangku taman, dan pepohonan hijau rindang. Ia sedang berteduh di bawah pohon besar bersama Andre. “Apakah selama ini aku salah, Andre? Aku selama ini menganggap bahwa Rafdy hanya menginginkan harta Ibuku, tapi semalam ia bilang ‘tidak’.” Donna mengangkat bahu. “Memang, adik-adikku, kakakku, kakak iparku, terutama Ibuku, tidak terlalu ambil pusing menanggapi anggapanku tentang Rafdy. Mereka menyukai Rafdy. Kak Dina dan suaminya, Kak Andi, hanya menaruh sedikit curiga pada Rafdy. Kurasa kau pun….” Andre mengangkat bahu. “Memang, aku menyukai dan menghormati Rafdy. “ Andre terlihat canggung. “Tapi aku merasa ia tidak sungguh-sungguh mencintai Ibuku…Memang tidak ada buktinya. Malah sebaliknya, Rafdy terlihat sangat menyayangi dan memanjakan Ibuku.” Andre menepuk kedua pipi Donna. “Itu saja sudah cukup ‘kan?” Andre tersenyum memperlihatkan lesung pipinya. *** “Baiklah, kau bisa diandalkan, bukan?” “Ya, Retna.” “Bagus.” Retna cipika-cipiki sekilas dengan Rafdy. “Aku memercayakan urusan kantor dan keluargaku padamu. Sampai nanti!” Retna menaiki Starletnya dengan anggun, melambai, lalu menghilang dari pandangan. Rafdy berbicara dengan Bi Tina sebentar, lalu menaiki Taft hijau tuanya, meninggalkan kepulan asap yang membuat Bi Tina terbatuk-batuk. “Apa? Ibu keluar kota untuk urusan bisnis lagi?” Donna meminum air dingin setelah selesai makan malam. Bi Tina mengangguk. “Tapi Nona tidak usah khawatir karena Tuan Rafdy akan menemani.” Donna mendengus. “Itulah yang kukhawatirkan. Bilang pada ‘Tuan’ Rafdy, kami tidak butuh perlindungannya.” “Kurasa kalian membutuhkanku.” Gema turun dari kursi dan ber-high five dengan Rafdy. “Aku senang Paman mau menemani kami!” Ia melirik tas hitam bergaris merah di dekat kaki Rafdy. “Bawaan Paman hanya sedikit?” “Ya. Lagipula hanya tiga hari.” “Waktu yang sangat lama.” Donna berusaha keras untuk tidak membentak-bentak dan mengusir Rafdy. Ia tidak ingin dianggap sinting oleh kedua adiknya. Bi Tina sudah tahu bahwa Donna memusuhi Rafdy, pria yang dianggap tertinggi, terganteng, termacho, dan terseksi yang pernah ditemui oleh Bi Tini. “Maksudku, waktu yang amat sangat singkat, Paman Rafdy….” Rafdy berusaha menyembunyikan senyumnya. “Tadinya Paman akan mengajak kalian makan pizza, tapi ternyata sudah telat, ya?” “Kurasa perut kami masih muat, Paman!” Dhena menunjuk perutnya sambil nyengir. “Tambah ice cream?” Tawa Rafdy terdengar memuakkan di telinga Donna. Bohong, kau menyukainya, Donna! Donna menggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan pikiran sintingnya. Dengan halus Donna menolak ajakan Rafdy untuk makan pizza di Pizza Hut, dengan alasan harus belajar untuk ulangan besok. Beberapa menit kemudian Donna sedang membaca majalah sambil tiduran di kamarnya. Ia tidak bisa berkonsentrasi sama sekali. Ia cemas memikirkan kedua adiknya. Bagaimana jika kedua adiknya diculik, ditawan, Lalu Rafdy meminta tebusan? Oh, tidak, tidak. Saat ini Donna lebih suka berpikir bahwa Rafdy orang baik-baik, walaupun Donna ragu. Paginya Donna langsung ke kamar kedua adiknya. Donna menghela napas lega melihat mereka tertidur nyenyak. Donna hampir berteriak saat Rafdy menyentuh bahunya. “Kau membuatku terkejut!” Donna menutup pintu kamar Dhena dan Gema lalu berjalan menuju balkon. Ia yakin Rafdy mengikuti di belakang. “Hawanya sejuk.” Rafdy meregangkan ototnya. Donna hanya mengangguk tak acuh. “Donna, aku takkan meminta maaf soal aku menghina Ayahmu, karena ia….” “Karena ia memang tolol yang…yang….” Tangisan Donna teredam oleh pelukan Rafdy. “Lepaskan aku.” Bertolak belakang dengan ucapannya, Donna malah memeluk Rafdy dan ia semakin membenamkan kepalanya ke dada Rafdy yang bidang dan hangat. “Aku benci Ayah!” Lengan Rafdy melingkari tubuh Donna. Ia mengelus bahu Donna lalu memeluknya dengan erat. Rafdy tidak mengucapkan apa-apa untuk menghibur Donna. Hanya memeluk. “Rafdy….” “Ya….” “Aku harus mandi…ada kuliah.” Rafdy melepaskan pelukannya. “Mau diantar?” “Tidak, aku tak butuh.” Donna menatap Rafdy dengan bingung. “Aku tahu, aku merasa nyaman sekaligus tidak nyaman dalam pelukanmu.” “Kenapa?” Ia tidak menjawab pertanyaan Rafdy. Donna malah tersenyum sinis, lalu ia masuk ke dalam. Senyuman menghiasi wajah Rafdy. Ia bersandar di sebuah pilar sambil melipat lengan. “Kalau begitu, aku akan mencari tahu, Manis….” Suaranya nyaris berbisik, dan penuh kerinduan. “Hei, Donna, ada yang jemput, tuh! Rafdy, kata Ibuku. Kau memberitahu akan belajar kelompok di rumahku, Don? Bukankah kau tidak suka pada calon Ayah tirimu itu?” Donna mengerutkan keningnya dan memandang Silvy, temannya. “Tidak, aku tidak memberitahu Rafdy kalau aku di sini. Ini pasti kerjaan Andre!” Donna mengerang kesal. Ia melihat jam di dinding, pukul 20.10. “Aku ‘kan sudah bilang pada Andre kalau kau akan mengantarku pulang, Sil.” Silvy mengangkat bahu. “Apa perlu kukatakan pada Rafdy bahwa….” “Tidak perlu. Donna, ayo pulang.” Rafdy berdiri di muka pintu kamar Silvy. Ia mengenakan sweatshirt biru dongker dan jeans biru pudar. “Selamat malam, Gadis-gadis.” Donna tahu, pasti Silvy terpesona oleh senyuman Rafdy. Dan itu memang benar. Sejak pertama bertemu, Silvy sudah terpesona, seperti halnya Bi Tina. “Rafdy, kami masih belajar, jadi….” “Ayo pulang, Donna.” Dengan kesal Donna merapikan alat tulisnya dan memasukkannya ke dalam tas. Ia tidak ingin membuat keributan di rumah Silvy, jadi ia tidak membantah lagi. Dalam perjalanan pulang, Donna menyetel radio keras-keras. “Kau menyetel musik tapi kau tidak menikmatinya.” “Kata siapa?” “Terlihat, tentu saja. Kau memandang keluar jendela, diam, melamun.” Rafdy memindahkan saluran radio. Terdengar alunan lagu yang lembut dan romantis. Donna tidak mencegahnya. Ia menatap keluar ke kegelapan malam. “Lalu apa urusanmu?” tanyanya ketus. Tangan kiri Rafdy menyentuh bahunya dan ia tidak berusaha menghindar. Rafdy mengangkat sebelah alisnya, heran karena Donna tidak menolak. Seperti tadi pagi, saat Rafdy memeluknya, Donna malah balas memeluk. “Donna, apa kau benar-benar membenci Ayahmu?” “Ya.” “Tapi kenapa kau tetap membela Ayahmu? Oh, aku tahu, kau pasti berpikir bahwa orang hina sepertiku tidak pantas menghina Ayahmu.” Suara Rafdy tenang tanpa emosi, hingga membuat Donna menoleh. “Itu salah satunya. Meskipun begitu, dalam lubuk hatiku, aku ingin Ayahku kembali….” Lalu Donna tiba-tiba sadar. Ia menggigit bibirnya dengan kesal. “Aku betul-betul bodoh. Aku tidak pernah bercerita pada siapa pun tentang hal ini, tapi aku malah bercerita padamu!” “Tidak juga pada Andre?” Dengan enggan Donna menggeleng. Dalam kegelapan, Donna dapat melihat senyum Rafdy. “Aku mendapat kehormatan, kalau begitu.” “Ya, yang akan kusesali seumur hidupku.” Donna tersenyum pahit. Seandainya Ayah kembali, pasti Ibu takkan mau menerima. Pasti Ibu masih sangat sakit hati….” *** Seminggu setelah Retna kembali ke rumah, giliran Rafdy yang tugas keluar kota. Pada hari kedua kepergian Rafdy, Rafdy menelepon. “Oh, hai, Paman. Kau masih hidup?” “Sayang sekali, aku masih hidup. Boleh aku berbicara dengan Retna?” “Tidak, ia sedang berbelanja….” “Berikan telepon itu, Sayang.” Donna memberikan telepon pada Ibunya sambil menggerutu lalu pergi ke ruang keluarga sambil membawa majalah yang tadi dibacanya. Beberapa saat kemudian Andre datang ke rumahnya. “Malam minggu ini kau terlihat muram.” Andre duduk di sampingnya dan bermaksud merangkulnya. Tak seperti biasanya, kali ini Donna menolak. “Donna? Kenapa? Kau tak suka aku memelukmu?” “Bukan, aku….” “Apa ada pria lain?” Donna membelalakkan matanya terkejut. “Aku tidak tahu, aku….” “Aku tahu ada yang lain, Donna. Rafdy ‘kan.” “Tidak! Apa kau gila! Dia kekasih Ibuku! Calon Ayah tiriku! Dan aku sangat membencinya!” Andre menenangkan Donna. “Tak perlu marah. Aku tahu Donna, aku peka soal dirimu.” Wajah Donna memerah. Ia memejamkan matanya. Ia menyandar ke punggung sofa, putus asa. Tubuhnya gemetar dan jantungnya berdegup kencang. “Aku tidak tahu, Ndre. Aku benci Rafdy, tapi entah kenapa akhir-akhir ini aku selalu salah tingkah di dekatnya. Tadi ia menelepon, dan aku kesal. Ia menelepon Ibu, bukan aku.” Donna tertawa putus asa. “Aku sudah gila….” Andre memeluknya. “Andre, maafkan aku….” “Untuk saat ini biarkan aku memelukmu….” *** Terkejut. Mungkin itu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan Donna saat ini. Donna ternganga menatap sosok di hadapannya. “Ayah?” Hery memandang Donna, matanya berkaca-kaca. “Kau banyak berubah, Donna. Kau tambah cantik dibanding dua belas tahun yang lalu.” Donna ragu, dengan canggung ia memeluk Ayahnya. “Sepertinya Ayah tambah kurus.” Hery merangkul putri keduanya itu dengan erat dan penuh kerinduan. “Donna, apa kau tidak membenci Ayah?” Donna mundur selangkah. “Waktu itu Ayah khilaf, bukan? Ayah tidak sungguh-sungguh mencintai Tante Utami, bukan?” Hery memandangnya. “Dulu Ayah berpikir bahwa Ayah mencintai Tante Utami. Tetapi setelah beberapa bulan menikahinya, Ayah baru menyadari siapa yang benar-benar Ayah cintai….” Hery menahan tangisnya. “Aku dulu membenci Ayah. Tapi aku selalu memikirkan Ayah. Aku tahu dari Ibu bahwa pernikahan Ayah hanya berlangsung beberapa bulan saja, bercerai, tanpa anak.” Donna menggigit bibir bawahnya. “Kenapa Ayah tidak kembali?” “Setelah Ayah bercerai dengan Tante Utami, Ayah pernah mencoba beberapa kali agar Ibumu menerima Ayah lagi. Namun Ibumu selalu menolak. Dan menurut Ibumu, anak-anak Ayah membenci Ayah, kau dan Dina tepatnya. ”Kakak, ada siapa?” Dhena menghentikan langkahnya dan memandang pria yang merangkul kakaknya itu. Ia berusaha mengenali wajah pria itu. “Wajahmu mirip dengan di foto, pria yang menggendongku…apakah…Ayah?” “Dhena Sayang….” Dhena menghambur ke pelukan Hery. “Ayah, kau benar-benar Ayah? Ayah ke mana saja selama ini?” Untuk kedua kalinya, Donna terkejut hari ini. Ia menatap Ibunya. “Apa? Jadi…?” “Ya, jadi beberapa bulan yang lalu Ayahmu kembali menemui Ibu. Dan setelah berpikir masak-masak, akhirnya Ibu menyadari bahwa Ibu masih teramat mencintai Ayah, dan ingin menikah lagi dengan Ayah.” Donna, Dina dan suaminya, kedua orang tuanya, dan Rafdy tengah duduk di ruang keluarga. Dhena dan Gema sudah tidur di kamar mereka karena waktu telah menunjukkan pukul 11.15. “Lalu bagaimana dengan Rafdy? Apakah ia bagian dari sandiwara ini?” “Pemeran utama. Rafdy adalah sahabat Ayahmu, yang mendamaikan kami.” Retna tersenyum pada Hery dan Hery merangkulnya hangat. “Ibu….” Dina yang sedari tadi diam mulai bicara. “Apa maksudnya pemeran utama?” Retna mengangkat bahu. “Mengetes. Apakah kalian ini masih membenci Ayah atau tidak. Ibu takut kalian tidak mau menerima Ayah karena Ibu tahu, kalian tidak menyukai pengkhianatan Ayah seperti juga Ibu.” “Jadi Rafdy turun tangan.” Hery meremas tangan istrinya. “Dan 2 minggu yang lalu, Donna mengakui isi hatinya tentang Ayah. Begitu juga Dina.” Donna memandang pria yang sedang diperbincangkan. Pria itu duduk dengan santai di sofa. Kaki kanannya ditumpangkan di kaki satunya. Matanya yang hitam balas memandang Donna. Ia sama sekali tidak tersenyum. Tiba-tiba ia berdiri. “Oke, kurasa semua sudah beres. Aku harus menyingkir, lagipula sudah malam.” Hery memintanya untuk menginap namun Rafdy menolaknya dengan halus. Donna memandang kosong ke arah Rafdy yang meninggalkan ruang keluarga, diantar Hery, Retna, Dina, dan Andi. Pergi? Menyingkir? Apakah maksudnya Donna takkan bertemu lagi dengannya? Donna merasa dadanya sesak dan tubuhnya gemetar. Ia langsung berdiri dan berlari mengejar Rafdy. Ia sampai menabrak Ibunya di teras depan. Di halaman tempat Taft Rafdy diparkir, Donna menarik tangan pria itu. Napas Donna tersengal dan tak terasa pipinya telah basah. “Aku belum minta maaf padamu! Selama ini aku selalu bersikap kasar!” Rafdy terkejut, hanya sedetik. Ia tersenyum dan menghapus air mata Donna. “Wajar saja. Jika aku jadi kau, kurasa aku akan melakukan hal yang sama.” Rafdy menatapnya lembut. “Baik-baiklah dengan Andre.” “Kami sudah putus.” ujar Donna cepat. Seperti dugaan Donna, Rafdy mengangkat sebelah alisnya. Karena itu Donna meneruskan, “karena ada pria lain….” “Begitu?” “Pria itu…kau, Rafdy.” Kali ini Rafdy benar-benar terkejut. Ia memandang ke teras yang ternyata telah kosong. Wajah Rafdy memerah dan ia berdiri canggung. “Aku tidak tahu harus berkata apa.” Donna tersenyum. Ia mengusap air matanya yang masih terus mengalir. Ia menahan rasa sakit di dadanya. “Aku tahu, kau benar-benar mencintai Ibuku. Sikapmu pada Ibu sepertinya nyata.” “Hei, Nona, jangan sembarangan. Aku menghormatinya, tidak lebih.” Rafdy menarik napas dan menghembuskannya perlahan. “Sebenarnya aku tidak suka untuk mengakui rahasiaku. Sepuluh tahun lalu aku bertemu Ayahmu, dan Aku jatuh cinta pada pandangan pertama padamu saat melihat fotomu yang selalu dibawa-bawa Ayahmu.” “Kau bohong!” Jantung Donna berdegup kencang. Rafdy menyelusupkan kedua tangannya ke belakang leher Donna, menyibakkan rambut panjang Donna, dan menariknya mendekat. Angin malam menerpa mereka, membuat Donna menggigil. Rafdy mempererat pelukannya. “Sungguh. Tapi aku agak takut juga saat kau memelototiku sewaktu Retna memberitahukan bahwa kami berpacaran.” Rafdy tersenyum mengingat hal itu. “Apakah kau sungguh jatuh cinta padaku?” “Ya….” “Boleh aku tahu ucapan nyaman tidak nyaman itu?” “Yah, aku merasa aneh…entah kenapa aku merasa nyaman dalam pelukanmu, tapi tentu saja tidak nyaman karena kau pacar Ibuku….” Donna tersipu. Ia mencengkeram kemeja Rafdy. “Tadi kau bilang akan menyingkir? Jangan pergi, Rafdy. Tetaplah di sini.” “Aku hanya pulang ke apartemenku, karena sudah malam.” Rafdy tidak bisa menahan senyumnya. “Yah, tadinya aku berniat pulang ke kota asalku, tapi karena ternyata aku tidak bertepuk sebelah tangan, jadi…aku akan tetap di sini menemanimu.” Donna tersenyum penuh harap. “Sungguh?” “Benar. Kalau begitu, kau mau menjadi kekasihku?” “Mau!” Donna menjawab dengan semangat. “Baiklah, selamat malam.” Rafdy melepaskan pelukannya dengan enggan, karena sebenarnya ia masih ingin memeluk Donna. “Boleh aku mengantarmu ke kampus besok?” Donna mengangguk. “Sampai besok! Oyasuminasai!” “Apa?” “Have a nice dream.” Donna mengecup pipi Rafdy dengan malu-malu, lalu berlari masuk ke dalam rumah. Rafdy terkejut karena Donna mencium pipinya. Ia tersenyum lembut. Ia berbalik dan menaiki Taftnya, lalu melajukan Taftnya dengan santai, sementara dadanya bergemuruh. Yes, akhirnya Donna jatuh cinta padaku! Rafdy tidak bisa tidak tersenyum. Ia bersiul-siul gembira menuju apartemennya. Ia berpikir ia tidak akan bisa tidur, tak sabar menanti hari esok untuk bertemu kembali dengan Donna, gadis yang selama sepuluh tahun ini selalu dirindukan dan hadir dalam setiap mimpi-mimpinya!
Diposting oleh wiku prima putra di 08.31 0 komentar
Puisi perjuangan 0.2 CERITA MASA LALU
Puisi perjuangan 0.2 CERITA MASA LALU Masa-masa yang pilu.. Perjuangan nyawa yang gigih melangkah menyerbu menyerang tak dihiraukan Kini.. Matahari mersinar terang tak ada lagi menderita tak ada lagi tangis pilu.. Cerita-cerita perjuangan menggambarkan sosok sosok yang tak dikenal merebut kemerdekaan ini Kini semua merdeka tak ada jajahan tak ada perang MERDEKA! MERDEKA!
Diposting oleh wiku prima putra di 08.26 0 komentar
Puisi perjuangan 0.1 Mentari Pagi
Puisi perjuangan 0.1 Mentari Pagi Pertiwimu kini tertawa menganak Menjerit diatas kepuasan Kasihan darah yang menyatu dengan tanah airmu Elakkan pengorbananmu Dimana kobaran merah semangatmu? Dimana putih suci ketulusanmu? Pemudamu kini telah pergi Anak cucumu hanya durhaka Dia menari dengan malaikat bumi Jangan menangis untuk hari Bukti sudah sakit Kuyakin kasihmu dalam mentari pagi Tuk memberi arti Membangunkan perjuanganmu yang mati hati
Diposting oleh wiku prima putra di 08.19 0 komentar
Pronouns dan Gerund
Pronoun dan Gerund Gerund adalah bentuk kata kerja -ing ketika digunakan sebagai kata benda . a) sebagai sejenis kata benda. b) sebagai bagian kata kerja. a) sebagai sejenis kata benda. * Gerund sebagai subjek Learning foreign languages is hard work Swimming is hobby * Gerund sebagai objek Some people don’t like flying He enjoys reading novel I finish writing letter * Gerund sebagai propositional phrase He is good at singing Ths land is good for farming * Gerund sebagai complement My father’s favourite sport is playing football Her hobby is telling story * Gerund sebagai noun modifier The waiting room is very large The reading books are on the table * Gerund sebagai larangan No smoking, No parking, No swimming. b) sebagai bagian kata kerja. Karena Gerund adalah bagian kata kerja, ia dapat menggunakan objek di belakangnya. Misalnya : e) Objek langsung (dengan transitif) : * · He is clever at teaching mathematics = Ia pandai dalam mengajarkan matematika. f) Objek Tak Langsung (dengan transitif) * · He is clever at teaching us mathematics = Ia pandai dalam mengajarkan matematika kepada kami. g) Objek yang tetap dipertahankan dalam kalimat pasif (Retained object) * · She is pleased at being taught mathematics = Ia senang sekali terhadap matematika yang diajarkan kepadanya. h) Objek yang artinya mirip dengan kata kerja itu sendiri = cognate object (dengan intransitif) * · She is proud of having sung a fine song = Ia bangga akan nyanyian merdu yang telah ia nyanyikan. i) Objek refleksif (dengan intransitif) · She is in the habit of oversleeping herself = Kebiasaannya sendiri bangun kesiangan (tidur terlalu lama) http://ukonhafid.wordpress.com/2011/11/03/pengertian-gerund-and-infinitive/ Deskripsi Ciri-Ciri dari Gerund: Dalam kalimat, gerund berfungsi sebagai: a. subjek (subject) b. pelengkap subjek (subjective complement) c. objek langsung (direct object) d. objek preposisi (object of preposition) e. aposisi (appositive) Subject Gerund sebagai subjek pokok kalimat, contoh: - Swimming is good service. - Your singing is very beautiful. - Studying needs time and patience. - Playing tennis is fun. - Reading English is easier than speaking it. Subjective Complement Gerund sebagai pelengkap subjek dalam kalimat biasanya selalu didahului to be yang terletak di antara subject dan subjective complement, contoh: - My favorite sport is running. - My favorite activity is reading. Direct Object Gerund sebagai objek langsung dalam kalimat, contoh: - I enjoy dancing. - She likes dancing. - Thank you for your coming. - I hate arguing. Object of Preposition Gerund sebagai objek preposisi yang terletak setelah preposisi. Preposisi yang sering dipakai adalah of, on, no, with, without, at for, after, before, because of, to, like, about, for, by, in. Contoh: - He is tired of gambling. - I am fond of eating bakso. - He insisted on seeing her. - I have no objection to hearing your story. - You will not be clever without studying. - They are good at telling funny stories. - In sleeping I met you in the park. Appositive Gerund sebagai aposisi atau penegas dalam kalimat, contoh: - My hobby, fishing, is interesting. - I do not like quarrelling, a useless job. My hobby is fishing dan fishing is interesting diletakkan bersebelahan dalam sebuah kalimat sebagai appositive (fishing adalah aposisi dari my hobby), begitu juga contoh kalimat dibawahnya. Kata Ganti (Pronouns) adalah suatu kata yang digunakan untuk menggantikan kata benda (nouns) agar lebih singkat dan tidak berulang kali menyebut nama benda tersebut dalam suatu kalimat. Dibawah ini adalah jenis-jenis pronoun : A.Personal pronoun Diantaranya ialah : I, WE, THEY, YOU, SHE, HE, IT Dipergunakan sebagai subjek (pokok kalimat) B.Possesive pronoun Diantaranya adalah: MINE, OURS, THEIRS, YOURS, HERE, HIS, ITS Dipergunakan sebagai penunjuk kepunyaan C.Demonstrative pronoun Demonstrative pronoun adalah kata ganti petunjuk, dipergunakan Untuk menggantikan kata benda yang telah diucapkan terlebih dahulu. Yang termasuk kata ganti petunjuk, antara lain : THIS, THAT, THESE, THOSE and SOME . NB: This dan these menujuk kata benda yang deka. That dan thost menunjuk kata benda yang jauh. Perhatikan -This -That -These -Those Contoh : -This book is mine -This book is good -These ate better -Those are also good -Some are in the room D.Relative pronoun Relative pronoun adalah kata ganti penghubung memiliki pengertian: Yang, dipergunakan untuk menghubungkan dua kalimat menjadi satu kalimat Perhatikan: -Who -Whose -Whom -Which -That Contoh dalam kalimat: 1.1 meet Yessi She will buy a book Relative pronoun: I meet Yessi who will buy a book NB: “Who berfungsi sebagai subjek pada kalimat kedua, artinya Yang. Pemakaian kata Who selalu diiring dengan kata kerja. 2.The girl whose name is Tari is good girl 3.The cat wich you strike is my cat 4.The boy that you see is my brother E.Interrogative pronoun Interrogative pronoun adalah kata ganti yang dipergunakan dalam kalimat bertanya. 1.Who (dipakai untuk menanyakan orang) -Who is striking you? 2.Whose (untuk menayakan orang, benda atau binatang sebagai kepunyaan) - Whose bag is this? - Whose pen is this? 3.Whom (dipakai untuk menanyakan orang) - Whom will you write the letter for? 4.What (dipakai untuk menanyakan benda atau binatang) -What is on the table? 5.Which (dipakai untuk menayakan orang, benda, atau binatang) -Which do you prefer, the pencil or the book?
Diposting oleh wiku prima putra di 07.37 0 komentar
Senin, 09 April 2012
contoh kalimat aktif dan kalimat pasif
Simple Present Tense
1. Nick helps Merry. (Kalimat Aktif)
Merry is helped by Nick. (Kalimat Pasif)
Present Continuous Tense
2. Nick is helping Merry. (Kalimat Aktif)
Merry is being helped by Nick. (Kalimat Pasif)
Present Perfect Tense
3. Nick has helped Merry. (Kalimat Aktif)
Merry has been helped by Nick. (Kalimat Pasif)
Simple Past Tense
4. Nick helped Merry. (Kalimat Aktif)
Merry was helped by Nick. (Kalimat Pasif)
Past Continuous Tense
5. Nick was helping Merry. (Kalimat Aktif)
Merry was being helped by Nick. (Kalimat Pasif)
Past Perfect Tense
6. Nick had helped Merry. (Kalimat Aktif)
Merry had been helped by Nick. (Kalimat Pasif)
Simple Future Tense
7. Nick will help Merry. (Kalimat Aktif)
Merry will be helped by Nick. (Kalimat Pasif)
8. Nick is going to help Merry. (Kalimat Aktif)
Merry is going to be helped by Nick. (Kalimat Pasif)
Future Perfect Tense
9. Nick will have helped Merry. (Kalimat Aktif) Nick had helped Merry. (Kalimat Aktif)
Merry had been helped by Nick. (Kalimat Pasif)
10. jack will gived merry .(kalimat aktif)
Merry have been gived by jack.(kalimat pasif)
Diposting oleh wiku prima putra di 06.16 0 komentar
jenis jenis tenses dan contohnya
Macam-Macam / Jenis-Jenis Tenses Bahasa Inggris
Pengertian Tenses
Kata Tenses berasal dari kata TEMPUS (bahasa latin) yang berarti waktu/time, dan diperoleh melalui Bahasa Prancis yaitu Temps.
Tenses adalah suatu bentuk kata kerja dalam tata bahasa yang menunjukan waktu terjadinya suatu perbuatan atau peristiwa dan tahap penyelesaiannya.
Ada 16 bentuk tenses. Berikut ini contoh-contoh tenses serta rumusnya:
KELOMPOK PRESENT (WAKTU SEKARANG)
1. Simple Present Tense (waktu sekarang)
She writes some letters now (active)
Dia menulis beberapa surat sekarang
[S + Verb1 + O/C]
Some letters are written by her now (passive)
Beberapa surat ditulis oleh dia sekarang
[S + To Be(am,are,is) + Verb3 + O]
2. Present Continuous Tense (sedang berlangsung)
She is writing some letters now (active)
Dia sedang menulis beberapa surat sekarang
[S + To Be(am,are,is) + (Verb1+ing) + O/C]
Some letters are being written by her now (passive)
Beberapa surat sedang ditulis oleh dia sekarang
[S + To Be(am,are,is) + being + Verb3 + O]
3. Present Perfect Tense (telah dikerjakan)
She has written some letters (active)
Dia telah menulis beberapa surat
[S + have,has + Verb3 + O/C]
Some letters have been written by her (passive)
Beberapa surat telah ditulis oleh dia
[S + have,has + been + Verb3+ O]
4. Present Perfect Continuous Tense (telah sedang dikerjakan)
She has been writing some letters for two hours (active)
Dia telah sedang menulis beberapa surat selama 2 jam
[S + have,has + been + (Verb1+ing) + O/C]
Some letters have been being written by her for two hours (passive)
Beberapa surat telah sedang ditulis oleh dia selama 2 jam
[S + have,has + been + being + Verb3 + O]
KELOMPOK FUTURE (YANG AKAN DATANG)
1. Simple Future Tense
She will write some letters tomorrow (active)
Dia akan menulis beberapa surat besok
[S + shall/will + Verb1 + O/C]
Some letters will be written by her tomorrow (passive)
Beberapa surat akan ditulis oleh dia besok
[S + shall/will + be + Verb3 + O]
2. Future Continuous Tense
She will be writing some letters tomorrow (active)
Dia akan sedang menulis beberapa surat besok
[S + shall/will + be + (Verb1+ing) + O/C]
Some letters will be being written by her tomorrow (passive)
Beberapa surat akan sedang ditulis oleh dia besok
[S + shall/will + be + being + Verb3 + O]
3. Future Perfect Tense
She will have written some letters (active)
Dia akan telah menulis beberapa surat
[S + shall/will + have + Verb3 + O/C]
Some letters will have been written by her (passive)
Beberapa surat akan telah ditulis oleh dia
[S + shall/will + have + been + Verb3 + O]
4. Future Perfect Continuous Tense
She will have been writing some letters (active)
Dia akan telah sedang menulis beberapa surat
[s + shall/will + have + been + (Verb1+ing) + O/C]
Some letters will have been being written by her (passive)
Beberapa surat akan telah sedang ditulis oleh dia
[S + shall/will + have + been + being + Verb3 + O]
KELOMPOK PAST FUTURE (YANG AKAN DATANG DI MASA LAMPAU)
1. Past Future Tense
She would write some letters when you came (active)
Dia akan menulis beberapa surat ketika kamu datang
[S + should,would + Verb1 + O/C]
Some letters would be written by her when you came (passive)
Beberapa surat akan ditulis oleh dia ketika kamu datang
[S + should,would + be + Verb3 + O]
2. Past Future Continuous Tense
She would be writing some letters on Monday last week (active)
Dia akan sedang menulis beberapa surat pada hari Senin minggu lalu
[S + should,would + be +(Verb1+ing) + O/C]
Some letters would be being written by her on Monday last week (passive)
Beberapa surat akan sedang ditulis oleh dia pada hari Senin minggu lalu
[S + shoul,would + be + being + Verb3 + O]
3. Past Future Perfect Tense
She would have written some letters if you hadn’t come here (active)
Dia akan telah menulis beberapa surat jika kamu belum datang kesini
[S + should,would + have + Verb3 + O/C]
Some letters would have been written by her if you hadn’t come here (passive)
Beberapa surat akan telah sedang ditulis oleh dia jika kamu belum datang kesini
[S + should,would + have + been + Verb3 + O]
4. Past Future Perfect Continuous Tense
She would have been writing some letters by March this year (active)
Dia akan telah sedang menulis beberapa surat menjelang Maret tahun ini
[S + should,would + have + been + (Verb1+ing) + O/C]
Some letters would have been being written by her by March this year (passive)
Beberapa surat akan telah sedang ditulis oleh dia menjelang Maret tahun ini
[S + should,would + have + been + being + Verb3 + O]
Diposting oleh wiku prima putra di 06.03 0 komentar