Pantun Cinta Romantis kembang gula di perigi untuk aku minum jamu kemana pun kamu pergi aku slalu rindu kamu meski hanya buah jambu tapi ini bisa diramu meskipun jarang ketemu cintaku hanya untukmu wahai serulig buluh perindu suaranya memikatku wahai gadis pujaanku aku sangat cinta kamu meski aku sudah kenyang tetap harus minum jamu perempuan yang ku sayang bolehkah aku bertamu
Minggu, 20 Mei 2012
“Hidupkanlah Terus Garis Kepahlawanan”
“Hidupkanlah Terus Garis Kepahlawanan” Hai, mahasiswa-mahasiswa hai, pemuda-pemuda yang sedang minum air pengetahuan Camkanlah ini! Bahwa pengetahuan bahwa ilmu bahwa pikiran bahwa teori tiada guna, tiada ujud jika tidak dipergunakan untuk mengabdi kepada prakteknya hidup Buatlah ilmu berdwitunggal dengan amal Angkatlah derajat kemahasiswaanmu itu kepada derajat mahasiswa patriot, yang sekarang mencari ilmu untuk kemudian beramal terus menerus dihadirat wajah ibu pertiwi Tahukah kamu apa sebab aku sekarang ini bangga? Bukan terutama karena menjadi Doctor Honoris Causa. Tetapi aku bangga karena Almamatermulah yang memanggil aku Almamatermu! Universitas Gajah Mada yang dilahirkan di atas persada amal bagi ibu pertiwi dilahirkan dalam kancah perjuangan ibu pertiwi Dalam kancah tempat menggumpalnya kemauan-kemauan nasional menjadi amal-amal nasional di dalam kancah tempat menggumpalnya oknum-oknum konstruktif dari pada Revolusi yang glorius ini, di dalam kancahnya perjuangan, pengabdian, pengorbanan di dalam kancah, yang demikian itulah Gajah Madamu itu dilahirkan di dalam kancah yang demikian itulah Gajah Madamu ini menjelma dan bertumbuh dan aku terharu bahwa Universitet yang demikian itulah menyatakan apresiasinya atas sumbangan ku kepada ibu pertiwi. Dan engkau, engkau adalah, mahasiwa-mahasiswa pada Universitas Putra Amal Perjuangan engkau adalah asuhan-asuhannya, engkau laksana anak-anak rajawali maka tetap setialah kepada jiwa dan cita-cita indukmu ini. Sekarang dan kelak jikalau engkau telah meninggalkan ruangan-ruangan kuliahnya dan telah masuk ke dalam prakteknya hidup hidupkanlah terus garis pahlawan hidupkanlah terus garis perjuangan Gajah Mada adalah mata airmu Gajah Mada adalah sumber airmu tinggalkanlah kelak Gajah Mada ini bukan untuk mati tergenang dalam rawanya ketiada-amalan atau rawanya kemuktian diri sendiri tetapi mengalirlah ke laut tujulah ke laut capailah laut lautnya pengabdian kepada negara dan tanah air yang berirama, bergelombang, bergelora! Ambillah, hai mahaiswa-mahasiswa Gajah Mada ucapan seorang revolusi Perancis Menjadi semboyan hidupnya di masa depan: "Dengan menuju ke laut, maka sungai setia kepada sumbernya"
Diposting oleh wiku prima putra di 09.13 0 komentar
padamu negeri puisi perjuangan
Padamu negeri Dari rantau aku menyapamu lagi Apa kabar hari ini Engkau bilang masih seperti kemarin hari Padamu negeri Dari rantau aku bertanya kembali Tentang bagaimana esok pagi Engkau pastikan seperti hari ini Padamu negeri Aku kapok tak ingin bertanya lagi Kalau jawabannya selalu begini Sampai hari kiamat nanti Padamu negeri Mana mungkin aku bisa berjanji Akan segera kembali membawa nyali Jika semuanya sudah tak berhati Padamu negeri Apalah gunanya memekikkan reformasi Jika etika masih dirobohkan ambisi Sehingga seantero negeri jadi taman safari Padamu negeri Apalah artinya menggulingkan rezim yang kau maki Jika yang baru ternyata hanya ambil posisi Menumpuk harta atas nama ibu pertiwi Padamu negeri Mana mungkin engkau tak kelihatan ngeri Bajingan terminal dikeroyok sampai mati Bajingan nasional dikembang-biakkan bagai merpati Padamu negeri Mana mungkin wajahmu nampak ramah berseri Jika demi sepiring nasi, orang harus bertarung melawan polisi Sedangkan demi BMW, orang lain tinggalkan kenakan baju safari Padamu negeri Mana mungkin orang kecil tak kan iri Melihat pejabat dan politisi hamburkan uang di luar negeri Sedang nelayan, buruh, dan petani makan satu dua kali sehari Padamu negeri Aku kapok tak ingin menyapamu lagi Kalau jawabannya selalu begini Sampai hari kiamat nanti
Diposting oleh wiku prima putra di 09.07 0 komentar
ledakan energi peradaban puisi perjuangan
Empat syuhada berangkat pada suatu malam, gerimis air mata tertahan di hari keesokan, telinga kami lekapkan ke tanah kuburan dan simaklah itu sedu-sedan, Mereka anak muda pengembara tiada sendiri, mengukir reformasi karena jemu deformasi, dengarkan saban hari langkah sahabat-sahabatmu beribu menderu-deru, Kartu mahasiswa telah disimpan dan tas kuliah turun dari bahu. Mestinya kalian jadi insinyur dan ekonom abad dua puluh satu. Tapi malaikat telah mencatat indeks prestasi kalian tertinggi di Trisakti bahkan di seluruh negeri, karena kalian berani mengukir alfabet pertama dari gelombang ini dengan darah arteri sendiri, Merah Putih yang setengah tiang ini, merunduk di bawah garang matahari, tak mampu mengibarkan diri karena angin lama bersembunyi. Tapi peluru logam telah kami patahkan alam doa bersama, dan kalian pahlawan bersih dari dendam, karena jalan masih jauh dan kita perlukan peta dari Tuhan.
Diposting oleh wiku prima putra di 09.01 0 komentar
7 cara menambah berat badan
7 cara menambah berat badan 1. Tetapkan target Sebelum Anda menjalankan program penggemukan tubuh, pertama-tama Anda harus menetapkan berapa berat badan yang Anda inginkan Pastikan target Anda masih dalam batas normal agar tidak mengarah pada obesitas. 2. Perhatikan rumus Menambah berat badan juga ada rumusnya, lho. 70-20-10 merupakan angka keramat bagi Anda yang ingin meningkatkan berat badan. Angka ini mewakili komposisi makanan yang harus Anda santap, yaitu 70% protein tanpa lemak, 20% kalori dari karbohidrat, dan 10% (atau kurang) lemak sehat. Menghitung jumlah kalori dalam makanan juga tidak hanya dilakukan orang-orang yang sedang berdiet. Untuk menambah bobot tubuh, pastikan kalori yang masuk dalam tubuh lebih besar dari kalori yang dipangkas lewat kegiatan sehari-hari. 3. Pola makan sehat Menambah berat badan bukan berarti Anda bebas menyantap apapun dan kapanpun. Anda juga harus terus memperhatikan kesehatan dengan menghindari makanan dengan lemak jenuh atau saturated fats. Jika target Anda tidak terpenuhi dan berat badan justru semakin berkurang, periksakan diri Anda ke dokter untuk memastikan tidak ada gangguan kesehatan. 4. Jus buah Jika orang yang berdiet disarankan meminum jus dari satu jenis buah, maka Anda yang menambah berat badan sebaiknya mengonsumsi jus yang terbuat dari bermacam-macam buah. Hasilnya, tubuh semakin berisi tapi tetap sehat. 5. Hindari minum sebelum makan Minum sebelum makan membuat perut cepat kenyang walau hanya makan sedikit. 6. Berhenti merokok Jika diperhatikan, mayoritas perokok aktif memiliki tubuh yang langsing. Ini disebabkan zat-zat kimia dalam rokok dapat menekan selera makan. Maka tak heran jika banyak yang memilih untuk tidak makan ketimbang puasa merokok. 7. Ngemil sebelum tidur Metabolisme tubuh menurun saat kita tidur. Menyantap cemilan bernutrisi sebelum tidur menjadi cara termudah untuk menambah berat badan, karena tubuh mencerna makanan dengan lebih lambat.
Diposting oleh wiku prima putra di 08.54 0 komentar
pengorbanan ayah
Aku terus melihat ayah dengan sebal saat dia melambaikan tangannya pagi itu untuk berangkat berdagang sayuran di pasar. Aku benar-benar menyesal telah dilahirkan dari rahim seorang wanita berkeluarga miskin. Sekitar lima bulang lalu, ibu pergi untuk selama-lamanya. Saat kepergian ibu, sama sekali tidak ada air mata yang menetes dari mataku. Aku benar-benar benci keluarga miskin ini! ucapku dalam hati. Setelah ayah sudah berbelok, aku langsung berangkat sekolah. Bagaimanapun juga, aku tidak ingin terlihat bareng dengan pedagang sayur itu. Di sekolah seperti biasanya. Saat istirahat aku hanya duduk diam di kelas. Aku sama sekali tidak dikasih uang jajan. Penghasilan ayah yang pas-pasan setiap harinya, hanya bisa untuk beli makan untuk di rumah saja. Bekal pun tidak ada. Aku rasa Tuhan tidak adil! Aku benar-benar muak dengan hidupku sekarang! Ingin sekali rasanya aku kabur dari rumah dan mencari keluarga baru yang kaya raya. Tapi aku rasa itu tidak mungkin. Ongkos untuk kabur pun aku tidak punya. Saat pulang sekolah, ayah sudah pulang duluan. Kulihat ayah memandangi foto ibu yang telah usang. “Dia itu udah mati! Percuma kalo foto diliatin gitu juga nggak bakal ngebuat dia hidup lagi!” teriakku kemudian langsung masuk ke kamar dan membanting pintu kesal. Terdengar suara tangisan ayah. Tapi aku sudah tidak peduli lagi. Aku kemudian tidur sambil menutup kepalaku dengan bantal gepeng yang usang. “Dasar anak tukang sayur! Udah miskin sok ngatur-ngatur lagi lo! Pergi lo dari kelompok gue!” teriak Metha, salah satu temanku, dia memang anak orang kaya. Kemudian aku pergi dari mejanya. Percuma juga jika aku meladeni bentakannya itu, yang ada teman-teman pasti akan menertawaiku karena ucapan Metha yang menjelek-jelekkanku. Aku pun tidak akan menangis dengan ucapan Metha tadi. Ucapan-ucapan seperti tadi sudah menjadi makanan sehari-hariku. Yah, beginilah kehidupanku. Penuh dengan ejekan. Semua ini karena keluargaku yang miskin! Aku benar-benar stress karena kemiskinan! “Heh! Ganti pekerjaan kek, Bapak! Aku malu denger semua ocehan temen-temen! Mereka selalu bilang kalo aku anak tukang sayur! Aku malu, Pak! Malu!” teriakku pada ayah sepulang sekolah. “May, udah sepuluh tahun Bapak kerja seperti ini. ini memang sudah pekerjaan Bapak, May. Mana mungkin bapak menggeluti pekerjaan lain. Bapak juga tidak punya keahlian, May. Maafkan Bapak” sahut ayah sambil menangis. Aku benci ucapan ayah itu! Bukan itu yang aku mau! “Bodo amat! Pokoknya Bapak nggak boleh jadi tukang sayur lagi!” bentakku kemudian masuk ke kamar dan membanting pintu. Di kamar aku menangis. Meratapi nasibku ini. Kenapa buruk nasibku ini? aku benci! Aku benci semuanya! Paginya kulihat ayah duduk di depan. Dia tidak pergi ke pasar hari ini. “Pak? Nggak jualan?” tanyaku. Ayah kemudian tersenyum padaku. “Bapak udah nggak jualan sayur, May. Kamaren kan kamu yang bilang supaya Bapak nggak jualan sayur. Sekarang Bapak jualan koran. Dan sebentar lagi juga Bapak berangkat” ucap ayah kemudian. “Ish, dasar! Maksud gue nggak usah jualan sayur, ya jangan jualan koran! Jadi insinyur kek! Biar kita kaya! Kaya raya, Pak!” bentakku kemudian. Ayah menundukkan kepalanya. Sebal melihat ayah, aku langsung pergi untuk berangkat sekolah. Kemudian ayah memegang pundakku dan menyodorkan tangannya. Aku sudah kesal dengan ayah bego itu! Aku tetap pergi tanpa salim padanya. Aku benci dia! Tiga bulan kemudian, ayah berganti pekerjaan sebagai tukang koran. Sama saja! Hidupku tidak berubah sama sekali. Sama seperti dulu. Tidak dapat uang jajan, jarang makan dan tidak ada uang untuk kabur dari rumah! aku benar-benar stress ada di rumah! mau pergi juga pergi kemana? Aku sama sekali tidak ada uang. Bosan sekali aku di rumah ini! Ayah pulang kemudian duduk di kursi sambil mengelap mukanya yang bercucuran peluh. “May, tolong ambilin Bapak minum. Bapak capek sekali, May” ucap ayah kemudian. “Heh! Enak aja nyuruh-nyuruh lo! Kalo haus, ya ambil minum sendiri! Punya kaki kan? Kalo Bapak nggak punya kaki, baru aku ambilin!” teriakku kemudian pergi meninggalkan ayah sendiri. Kemudian aku pergi keluar rumah. Aku duduk duduk di kursi depan. Sebal rasanya aku dengan ayah. Sudah miskin, sok jadi raja lagi! Minum saja minta ambilin! Punya kaki kenapa harus minta ambilin?! Dasar ayah tidak berguna! Ucapku dalam hati dengan kesalnya. Besoknya tiba-tiba ayah pulang dengan babak belur. Ayah meringis kesakitan sambil memegang lukanya. Kemudian aku menghampirinya dan bertanya, “kenapa, Pak?”. “Bapak tadi berantem, May. Ada orang yang mengambil barang berharga punya Bapak” jawab ayah sambil meringis kesakitan. “Ish! Ngapain coba pake berantem segala?! Kayak anak kecil aja! rebutan barang lagi! Anak kecil banget tau nggak!” bentakku benar-benar sebal. Dasar orang tua! Sudah tua bukannya banyak nyari uang, malah berantem kayak anak kecil! Bentakku dalam hati. Ih! Aku benar-benar kesal dengan ayah! Sudah tua, miskin, kerjanya hanya merepotkan saja! Rasanya aku ingin cepat kabur dari rumah ini! Rumah gubug ini! Malam harinya, terbelesit pikiran nakalku. Aku tau bagaimana cara kabur dari rumah kali ini. aku berjinjit masuk pelan ke kamar ayah. Kulihat ayah sedang duduk di kursi depan. Saat di kamar ayah, aku langsung mengobrak-abrik lemari baju ayah. Kucari-cari sesuatu itu. Dan akhirnya... ya! Aku berhasil mendapatkannya! Uang itu, uang untuk kabur itu. Aku berhasil mendapatkannya. Selamat tinggal miskin! Ucapku dalam hati sambil tertawa tidak bersuara. Kemudian kumasukan uang itu ke dalam saku baju. Aku bergegas keluar dari kamar ayah. Saat hendak keluar, tiba-tiba ayah sudah ada di depanku. Aku terkejut melihatnya. “Kamu kenapa ke kamar Bapak?” tanya ayah padaku. Aku memikir-mikir alasan apa yang masuk akal. “Emangnya nggak boleh apa ke kamar Bapak?! Miskin aja pake rahasia-rahasian segala! Dasar miskin!” bentakku kemudian. Aku segera masuk ke dalam kamar. Ku hitung-hitung, uangnya berjumlah empat puluh lima ribu. Untuk apa ayah menyimpan uang sebanyak ini? dasar!. Aku berencana, nanti pagi-pagi sekali pergi dari rumah ini. niatku sudah mantab! Aku akan pergi dari kemiskinan ini! pergi dari ayah yang tidak berguna itu! Ucapku dalam hati dengan mantabnya. Pagi-pagi sekali aku sudah bersiap. Saat hendak keluar kamar, tiba-tiba ada perasaan tidak enak. Aku tidak tau kenapa begitu. Hatiku ini, seperti bilang jangan pergi. Aku takut jika nanti terjadi apa-apa dengan diriku. Setelah lama dilema, akhirnya aku putuskan untuk tidak jadi pergi dari rumah. uang ini, lebih baik aku simpan sendiri saja. Cukup untukku membeli baju. Apalagi.. sebenatar lagi hari ulangtahunku. Aku juga ingin bersenang-senang di hari ulangtahunku. Akhirnya aku menyimpan kembali uang itu. Dan tidak jadi pergi dari rumah. sangat kusesali juga. Tapi.. yasudahlah, mungkin memang ini belum waktunya untuk kabur dari rumah. Seminggu kemudian, tepat di hari ulangtahunku, aku berdandan serapih mungkin. Hari ini aku akan pergi ke pasar untuk membeli baju dengan memakai uang yang ku simpan itu. Saat di perjalanan, tiba-tiba salah seorang tetanggaku menghampiriku dan berkata, “May, May tunggu! Jangan pergi dulu! Emm.. heh.. emm.. anu... Bapakmu.. heh.. Bapakmu.. kec.. kecelakaan!”. Aku terkejut dengan ucapan itu. Entah kenapa aku sedih dengan ucapan tetanggaku itu. Seharusnya aku senang karena ayah kecelakaan! Jadi tidak ada yang merepotkanku lagi. Tidak ada wajah yang menjengkelkan aku lagi. Tapi kali ini.. aku malah sedih. Saat diajak menengok ayah pun aku mengikuti. Kenapa ini? tanyaku pada diri sendiri. Air mataku menetes saat melihat ayah terbaring di kasur rumah sakit. Lukanya ada dimana-mana. Diselimutnya, masih terbekas darah segar bekas darah ayah. Aku langsung menghampiri ayah. Air mataku terus mengalir sedih. Entah mengapa, aku kasian melihat ayah terbaring seperti ini. Memeluknya.. aku malu sekali melakukan itu. Padahal aku sangat ingin melakukan itu. Sejam kemudian, ayah sadar. Kemudian dipanggil-panggilnya namaku. Aku pun segera menghampiri ayah. “May, coba tolong liatin kaki Bapak. Bapak merasa tidak nyaman, May. Bapak bener-bener minta tolong kali ini” pinta ayah kepadaku. Kemudian, kubuka selimut ayah dan betapa terkejutnya aku. Kaki ayah.. kaki ayah.. kaki ayah hanya tinggal sedengkul. Kaki ayah ternyata diamputasi. Ayah tidak punya kaki lagi sekarang. Air mataku kembali mengalir saat melihat keadaan kaki ayah sekarang. Tanpa malu, aku langsung memeluk ayah. Sakit hati ini memeluknya. Mengingat perlakuanku kepadanya dulu. “May, Bapak haus. Tolong ambilkan minum untuk Bapakmu ini, Nak. Kamu sendiri yang bilang kan, jika Bapak tidak punya kaki, kamu yang akan mengambilkan minum untuk Bapak. Sekarang.. Bapak tidak punya kaki lagi, May. Tolong ambilkan minum untuk Bapak, Nak” ucap ayah menangis. Melihat ayah menangis, aku pun jadi ikut menangis. Kemudian kuambilkan minum ke meja. Hatiku kembali sakit mendengar perkataan ayah barusan. Ayah benar. Dulu aku memang pernah berkata seperti itu. Sekarang, aku benar-benar sedih mengingat kata-kataku dulu itu pada ayah. Ayah kemudian memegang tanganku erat. Kemudian disuruhnya aku mengambil sesuatu di bawah tempat tidur ayah. Saat kulihat, ada baju disana. “Untuk siapa ini, Pak?” tanyaku kemudian bingung. “Itu.. untuk..mu, May. Se.. selamat ulangta... hun ya, May. Maaf se... kali karena Bapak hanya bi.. bisa memberi itu untuk... mu” jawab ayah terbata-bata. Aku kembali menangis mendengar ucapan ayah. Kemudian aku peluk ayah dengan erat. Kuucapkan terima kasih pada yah. “Se.. sebenarnya, uang ya.. ng kamu ambil wak... tu it.. tu, mau Bapak ku.. pulkan un.. untuk membeli kado un.. untukmu, Nak. Bapak ta..u karena saat Bapak li... at lemari, u... uang itu sudah ti.. tidak ada” ucap ayah lagi. Kemudian aku merasa bersalah dengan ayah. “Maapin aku, Pak. Aku nggak tau kalo uang itu untuk beli kado buat ulangtahunku. Maap, Pak” ucapku malu. Ayah hanya tersenyum padaku. Kemudian dipeluknya aku. Aku sangat merasa bersalah pada ayah. Kenapa aku.. bisa dengan gampangnya berlaku tidak sopan pada ayah dulu? Kelakuanku.. sama saja dengan setan! Aku pun mengumpat diriku sendiri. Setelah beberapa jam di rumah sakit, kemudian ayah memanggilku lagi. Aku segera berdiri dari kursi tunggu dan mendekati ayah. Kemudian ayah berkata. “Jaga dirimu baik-baik, May. Maaf karena Bapak tidak bisa menemanimu selamanya. Untuk kedepannya, Bapak akan menemani ibumu disana, May. Di tempat yang jauh itu. Bapak sudah memaafkan semua kesalahanmu. Semua kata-kata kasar darimu, May. Karena Bapak tau, kamu bersikap begitu karena Bapak juga yang hidup miskin begini. Sekarang, kamu bisa tenang tanpa Bapak, May. Bapak sangat menyayangimu. Semoga nantinya kamu bisa tumbuh sebagai wanita yang soleha, May”. Setelah berucap kemudian ayah tersenyum padaku. Sebelum akhirnya... dia memejamkan matanya dengan kedamaian. “Bapakk!!!! Bapak!!! Jangan tinggalin May, Pak!!! Bangun, Pak!!!! May takut sendirian, Pak!!! May minta maap dengan semua kata-kata May, Pak!!!!! Bapak bangun!!!!! Bapakkkk!!!!!!” teriakku sambil menggoyang-goyangkan tubuh ayah. Tapi ayah sudah tidak mendengar teriakanku lagi. Dia tetap tertidur. Dia diam tidak bergeming. Aku menangis. Kemudian teringat kembali saat aku mengatakan kata-kata kasar kepada ayah. Ayah yang selama ini ternyata selalu menyayangiku. Ini ulangtahun terakhirku bagi ayah. Dan dihari ulangtahun ini, terakhir kalinya aku melihat ayah. Kado terakhir ini... akan aku kenang sampai aku mati. Bapak, maafkan aku, ucapku dalam hati. Tak kuasa aku menahan tangis ini. Ayah sudah tidur untuk selama-lamanya.
Diposting oleh wiku prima putra di 08.44 0 komentar
puisi hati kau tak akan pernah terganti
puisi hati kau tak akan pernah terganti Kau tak akan terganti(puisi hati) setelah dirimu pergi.. ku mencoba membuka lembaran baru dengan yang lain tetapi.. mengapa ku slalu teringat dirimu dan kau seperti berada d sampingku kasih… maafkan aku.. ku tak sanggup begini ku jalani dgnmu tapi dirinya sll membayangi maafkan… ku akhiri hubungan ini dan ku sadar bahwa.. dirinya tak akan terganti dan tak ada sepertinya.. kini ku berharap dirinya dapat kembali
Diposting oleh wiku prima putra di 08.41 0 komentar